Senin, 18 November 2013

isd



                                                                         Nama : Hidayat Ramdhani
                                                                         prodi : psik
                                                                         Nim : 010110a043

                                                      
                       Sejarah kota praya
                      Lombok tengah
Kabupaten Lombok Tengah terbentuk menjadi otonom berdasarkan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan daerah-daerah Tingkat II dalam wilayah Daerah-Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Undang-undang tersebut disahkan pada tanggal 14 Agustus 1958. Namun demikian, sebelum terbentuk sebagai sebuah wilayah pemerintahan, entitas Lombok Tengah telah ada jauh sebelum itu. Beberapa momentum historis yang menandai keberadaan Lombok Tengah, antara lain adalah dengan dikeluarkan Stb Nomor 248 Tahun 1898, kemudian pasca proklamasi, Lombok Tengah secara integral menjadi bagian dari NKRI ditandai dengan pelantikan secara formal Kepala Pemerintahan Setempat Lombok Tengah yang pertama, pada tanggal15 Oktober 1945. Momentum ini menjadi leverage factor yang memicu tumbuhnya semangat integrasi, patriotisme dan nasionalisme di Kabupaten Lombok Tengah. Enam momentum yang diklasifikasi menjadi dua kategori masa kejadian perostiwa penting perjalanan Kabupaten Lombok Tengah, yakni pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.
Momentum Peristiwa Sebelum Kemerdekaan, meliputi :
a. Peristiwa 7 Agustus 1891. Pada saat inilah mulai dikobarkannya apa yang disebut dengan Congah Praya kemudian berlanjut pada 28 September 1898 menjadi Perang Lombok yang berakhir dengan runtuhnya dinasti Kerajaan Karang Asem di Lombok
b. Peristiwa 18 Agustus 1898. Berlangsung pertemuan para tokoh masyarakat sasak untuk mennetukan batas wilayah desa dan kampung, baik di onder afdeeling (dibawah divisi) Lombok Barat maupun di onder afdeeling Lombok Timur. Pada waktu itu, Lombok Tengah masih berada di onder afdeeling Lombok Timur
c. Peristiwa 27 Agustus 1898. Onder afdeeling Lombok Timur dimekarkan menjadi onder afdeeling Lombok Timur dan onder afdeeling Lombok Tengah, sesuai statblad Nomor 248 Tahun 1898 kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Gubernur General Nomor 19 Tanggal 27 Agustus 1898. Sejak saat itulah dikenal istilah Lombok Tengah dengan batas-batas wilayah seperti sekarang.
Momentum Peristiwa setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, meliputi :
a. Peristiwa 22 September 1945. Presiden RI, Ir. Soekarno, melantik I Gusti Ketut Pudja menjadi Gubernur Provinsi Sunda Kecil, dimana Lombok yang masih diduduki Jepang merupakan bagian dari wilayah Provinsi Sunda Kecil
b. Peristiwa 15 Oktober 1945. Dilakukan over alih kekuasaan dari Jepang kepada Bangsa Indonesia di Gedung Mardi Bekso Mataram. Peristiwa ini menandai masuknya Lombok ke wilayah Hukum Pemerintahan Republik Indonesia. Sejak saat itu, Bendera Merah Putih mulai dikibarkan di Lombok, disusul dengan penetapan orang-orang yang memegang jabatan pemerintahan, diantaranya R. Noene Noeraksa menjadi Kepala Daerah setempat – Lombok Barat, Lalu Srinata menjadi Kepala Daerah Setempat – Lombok Tengah dan Mamiq Fadelah menjadi Kepala Daerah setempat – Lombok Timur
c. Peristiwa 17 Desember 1958. Hari jadi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berdasarkan Undang-undang Nomor 64 tahun 1958 dan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah tingkat II dalam wilayah Daerah Tingkat I Bali, NTB dan NTT Tanggal 14 Agustus 1958.
Keenam alternatif momentum tersebut, kemudian mengerucut menjadi dua. Satu alternatif momentum sebelum kemerdekaan, yakni peristiwa 27 Agustus 1898. Sedangkan alternatif momentum sesudah kemerdekaan, yang dipilih adalah peristiwa 15 Oktober 1945. Ketika memilih salah satu dari dua alternatif momentum ini ternayat tidak mudah. Buktinya, selama tiga hari dan tiga malam seminar berjalan, belum juga menghasilkan keputusan. Forum seminar kemudian membentuk Tim Perumus untuk melakukan kajian lebih mendalam terhadap kedua alternatif momentum tersebut. Setelah melalui perdebatan diantara Tim Perumus dipilih peristiwa 15 Oktober 1945 sebagai Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah. Dipilihnya momentum 15 Oktober 1945 sesuai dengan kriteria yang telah disepakati, sebagaimana dinyatakan dalam Berita Acara Tim Perumus Seminar Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah, yakni :
a. Hari jadi yang ingin ditetapkan adalah Hari kesatuan masyarakat hukum
b. Dasar penentuan alternatif momentum hendaknya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dengan memperhatikan hal-hal berikut :
1. Memperkokoh persatuan dan kesatuan serta meningkatkan rasa kebersamaan serta mampu menggali nilai-nilai perjuangan sebagai spirit dalam menghadapi masa depan
2. Memiliki nilai legalitas dan landasan yuridis formal, serta didukung dengan kajian ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara akademis
3. Mendapat pengakuan secara luas dari masyarakat
Selain telah memenuhi kretiria tersebut, dipilihnya tanggal 15 Oktober 1945 juga dilandasi oleh beberapa pertimbangan. Pertama, pengakuan Lalu Srinata selaku Kepala Pemerintahan Lombok Tengah oleh Gubernur Provinsi Sunda Kecil, Mr. I Gusti Ketut Pudja, telah melegitimasi keberadaan Pemerintahan Lombok Tengah secara hukum. Kedua, pada tanggal 15 Oktober 1945 Komite Nasional Daerah Lombok (semacam DPRD) mengadakan rapat umum di alun-alun Mataram. Pada momentum itulah untuk pertama kali dikibarkan Bendera Merah Putih dan dibacanya Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 di Bumi Sasak Lombok. Peristiwa ini tentu amat membanggakan dan menjadi spirit bagi masyarakat Lombok untuk membangun daerahnya menjadi lebih maju kedepan.
Peran KNPI
Beberapa waktu sebelumnya, telah beberapa kali ada upaya melalui seminar, diskusi, sangkep adat dan forum lainnya untuk mencari dan menentukan Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah. Upaya itu dilakukan, antara lain, oleh lembaga swadaya masyarakat termasuk dinas instansi tertentu. Namun, belum menghasilkan sebuah keputusan tentang hal tersebut. Suatu bukti, betapa tidak mudahnya menemukan dan menetapkan Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah, daerah yang kini telah menjadi gerbang NTB berkat keberadaan Bandara Internasional Lombok (BIL).
Terdorong oleh idealisme kepeloporannya, kelompok kaum muda di bawah bendera DPD KNPI Lombok Tengah dengan Ketua Lalu Muhammad Saleh, S.Sos dan Sekretaris Lalu Amrillah, S.Sos kemudian tampil selaku penyelenggara seminar yang berhasil menentukan tanggal lahir Kabupaten Lombok Tengah. Sejumlah nara sumber berkompeten dari berbagai kalangan dihadirkan pada acara seminar tersebut. Dari kalangan akademisi, antara lain, Prof. Galang Asmara (Dekan Fakultas Hukum Unram), Prof. Gde Agung Anak Agung (Dekan Fakultas Sastra, Universitas Udayana). Dari pejabat birokrasi Lombok Tengah hadir, antara lain, Drs. Lalu Muhammad Danial, MT dan sejumlah tokoh budayawan, tokoh adat dan tokoh agama Lombok Tengah. Peserta seminar adalah para tokoh perwakilan dari 12 kecamatan, se kabupaten Lombok Tengah. Dengan demikian, forum seminar ini sangat representatif untuk menghasilkan sebuah keputusan tentang Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah yang diterima oleh semua pihak.
Tim perumus hasil seminar diketuai oleh Drs. L. Muhammad Danial, MT dan L. Muh. Ikhsan, SE selaku sekretaris. Anggota Tim perumus adalah tokoh dari berbagai kalangan, diantaranya : Drs. H. Lalu Subki, M.Pd (Pemerhati Pendidikan), H. Marzuki (tokoh masyarakat), Ahmad Yani, APKL (politisi), L. Muh. Saleh, S.Sos (tokoh pemuda), L.Purna Mangunjaya (budayawan), Drs. Nasri Anggara, MA (tokoh agama, Kakan Kemenag Kabupaten Loteng), L. Siaga, S.Sos (tokoh pemuda), L. Siaga, S.Sos (tokoh pemuda), H. Lalu Muhammad Putria S.Pd, M.Pd (budayawan, Kadis Pariwisata kab. Loteng), L Maskur (tokoh masyarakat), Bq. Sri Handayani (wartawati), L. Saftaadi (tokoh pemuda), H. Lalu Muhammad Syar’i BE (budayawan) dan Drs. L. Padlan Prayanegara, MM, M.Pd, M.Si (politisi).
Setelah ditetapkan tanggal 15 Oktober 1945 sebagai hari kelahiran Kabupaten Lombok Tengah, langkah selanjutnya adalah legalitas secara hukum yaitu ditetapkan melalui produk hukum, ternyata tidak mudah. Rancangan Perda (Ranperda) tentang hari jadi kabupaten Lombok Tengah diajukan oleh Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Wiratmaja melalui Sekda Lombok Tengah, Drs. H. Lalu Supardan, MM ke DPRD Lombok Tengah pada tahun 2009 namun pada saat itu DPRD Lombok Tengah belum dapat mengagendakan untuk dibahas. Terhadap hal tersebut, Bupati H. Moh. Suhaili FT seusai Peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2012, mengundang para Tim Perumus ke Ruang rapat Utama kantor Bupati untuk membahas kalanjutan Ranperda tentang hari jadi tersebut apakah hasil seminar yang telah diajukan ke DPRD Lombok Tengah akan dibahas kembali atau tidak. Di dalam pembahasan yang dipimpin oleh Sekda Lombok Tengah, Drs. H. Lalu Supardan, MM mengambil keputusan bersama bahwa hasil seminar yang telah diajukan ke dewan dalam bentuk ranperda tidak dibahas lagi sehingga Tim Perumus mendorong Pemda untuk berkoordinasi dengan dewan untuk pembahasan selanjutnya pada tahun 2012. Hal ini yang dilaporkan kepada Bupati.
Periode Kepemimpinan Daerah (dari tahun 1945 – sekarang)
Dalam usia 67 tahun, perjalanan kabupaten Lombok Tengah, yakni zaman orde lama, zaman orde baru dan zama orde reformasi. Dalam tiga zaman pemerintahan tersebut, daerah bermotokan Tatas Tuhu Trasna ini telah dipimpin oleh 9 orang Kepala Daerah/Bupati –Wakil Bupati. Figur bupati pada setiap zaman pemerintahan dipengaruhi oleh motivasi politik dan ketentuan Perundang-undangan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berlaku pada masing-masing zaman. Oleh karena itu, figur Bupati – Wakil Bupati bisa dikatakan mewakili peradaban manusia pada zamannya.
Selama dua dekade masa kekeuasaan, Rezim Orde Lama telah memberlakukan beberapa peraturan Perundang-undangan tentang pemerintahan daerah, yakni : Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1057, Penpres Nomor 6 Tahun 1959 dan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965. Berpijak pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan tersebut, sepertinya telah melegitimasi praktek kekuasaan rezim orde lama ketika memberlakukan apa yang dikenal dengan demokrasi terpimpin dalam sistem pemerintahannya. Kebijakan ini sangat dimungkinkan atas kondisi politik dan keamanan pada zaman itu. Pada saat itu, sistem rekruitmen kepala daerah dilakukan melalui proses pengangkatan oleh pejabat pemerintah pusat. Menariknya, figur para bupati yang diangkat adalah dari kalangan putra daerah, mulai dari kepala pemerintahan daerah setempat – Lombok Tengah, dijabat oleh Lalu Srinata (1945 – 1946).
Mula-mula L. Wira said (mendiang ayahanda Lalu Srinata), lebih dahulu memegang jabatan sebagai Kepala Distrik Jonggat. Berkat pendidikan yang dimiliki, Lalu Srinata kemudian diangkat oleh pihak kontelir (sebutan bagi penjajah) menjadi Kepala Distrik Jonggat pada 1932 – 1945, menggantikan kedudukan sang ayah. Ini emnjadi awal perjalanan karir Lalu Srinata di dunia birokrasi pemerintahan. Pada awal masa kemerdekaan Negara RI, karier Lalu Srinata semakin meningkat, setelah diangkat mejadi Kepala Daerah Setempat - Lombok Tengah pada 15 Oktober 1945 sampai 1946. Pada waktu itu, wilayah administratif Pemerintahan daerah Lombok Tengah terdiri dari empat kedistrikan, yakni Distrik Praya, Kopang, Mantang dan distrik Jonggat.
Setelah Lalu Srinata, Lombok Tengah kemudian dipimpin oleh Lalu Wirentanus alias Haji Hasyim atau biasa disapa Datu Tuan (1946 – 1959). Pada masa ini dilakukan pembagian wilayah Lombok Tengah dengan Lombok Timur. Persatuan dan Kesatuan diantara semua elemen masyarakat merupakan salah satu titik berat atau fokus pemerintahan Lalu Wirentanus disamping masalah keamanan.
Pemerintahan Lalu Wirentanus dialnjutkan oleh M. Sanusi (1960 – 1964) selaku Kepala daerah Tingkat II Kabupaten lombok Tengah. Naiknya M. Sanusi sebagai Kepala daerah Tingkat II Kabupaten Lombok Tengah melalui pemilihan di DPRD yang ditetapkan oleh Menteri dalam Negeri. Selain meneruskan beberapa kebijakan pendahulunya, M. Sanusi juga melakukan berbagai upaya pembangunan agar masyarakat daerah ini lebih sejahtera. Salah satu yang sangat dibutuhkan oleh warga masyarakat pada saat itu adalah air untuk pengairan maka dibangunlah waduk yang ada di Desa Muncan, Kecamatan Kopang. Wilayah Administratif Lombok Tengah pada masa ini tetap empat Distrik, diantaranya, Distrik Praya, Kopang, Mantang dan Jonggat.
Kepemimpinan M. Sanusi berakhir pada tahun 1964 dan dilanjutkan oleh salah satu putra terbaik Lombok Tengah, yaitu Drs. Lalu Sri Gede. Fokus pembangunan pada masa pemerintahan ini adalah memperluas infrastruktur jalan yang ada di kota praya dan beberapa wilayah lainnya. Maklum, pada saat itu infrastruktur jalan yang ada di kota praya sangat sempit. Pembangunan infrastruktur jalan diimbangi dengan pembangunan perkampungan yang salah satunya adalah Kampung kauman. Pemerintahan Drs Lalu Sri Gde berakhir pada tahun 1979.
Setelah Drs H. Lalu Sri Gde berakhir pada tahun 1979.
Setelah Drs H. Lalu Sri Gde, Pemerintahan dilanjutkan oleh Letkol. C. Parwoto WP untuk periode 1979 -1989. Untuk pertamakalinya, Lombok Tengah dipimpin oleh seorang TNI. Pada masa ini pemerintahan Parwoto WP inilah mulai ada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di Kabupaten Lombok Tengah. Bersamaan dengan itu, perencanaan pun dilakukan. Sistem Gogo Rancah yang sangat terkenal itu, mulai diterapkan pada masa pemerintahan ini. Melihat kondisi sebagai sebagian besar lahan di Lombok Tengah dalam keadaan kering, maka dibangunlah Waduk atau Bendungan Batujai.
Tata ruang Kota Praya juga sudah mulai direncanakan. Selain itu, ide pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) sudah mulai pada masa periode pemerintahan ini.
Kepemimpinan Letkol C. Parwoto WP berakhir tahun 1989 yang dilanjutkan oleh Kol. (Purn) H. Ircham dari kalangan TNI juga. Kol. (Purn) Ircham memimpin Lombok Tengah untuk periode 1989 – 1999. Disamping melanjutkan kegiatan pembangunan periode bupati sebelumnya, pada masa inilah lahan Bandara Internasional Lombok (BIL) yang ada di Tanak Awu, Kecamatan Pujut dilakukan pembebasan. Sistem Gogo Rancah untuk mengimbangi tanah yang kering di wilayah selatan tetap diterapkan.
Habis masa pemerintahan Kol. (Purn) H. Ircham dilanjutkan oleh Drs H. Lalu Suhaimi dari kalangan sipil yang diangkat melalui DPRD. Pada masa inilah pemekaran wilayah dilakukan sehingga menjadi 12 kecamatan seperti sekarang ini. Kecamatan yang baru hasil pemekaran pada masa Drs H Lalu Suhaimi, diantaranya, Kecamatan Praya Tengah, Kecamatan Praya Barat dan Kecamatan Praya Barat Daya. Selain pemekaran wilayah, Drs H. Lalu Suhaimi juga memindahkan terminal yang ada di Kota Praya ke Renteng, Kecamatan Praya. Hal ini seiring dengan pengembangan usaha perdagangan di kota praya. Drs H. Lalu Suhaimi menjadi Kepala Daerah Kabupaten Lombok Tengah sampai tahun 2004.
Periode kepemimpinan Lombok Tengah selanjutnya di bawah pasangan H. Lalu Wiratmaja – H. Lalu Suprayatno, SH. MBA. MM. Untuk pertamakalinya pasangan pimpinan Lombok Tengah ini dipilih secara langsung oleh seluruh rakyat Bumi Tatas Tuhu Trasna. Pada masa kepemimpinan H. Lalu Wiratmaja atau mamiq ngoh inilah dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL). Kepemimpinan H. Lalu Wiratmaja hanya satu periode yaitu dari tahun 2004 – 2010. Untuk periode 2010 – 2015, Gumi Tatas Tuhu Trasna dipimpin oleh pasangan H. Moh. Suhaili FT, SH. – Drs H. Lalu Normal Suzana yang juga dipilih secara langsung. Pasangan yang etrkenal dengan Jargon Maiq Meres ini ingin mewujudkan tatanan masyarakat Lombok Tengah yang Bersatu : Beriman, Sejahtera dan Bermutu.


Iklim

Kecamatan Praya terdiri dari 9 kelurahan dan 5 desa. Berdasarkan klasifikasi Schmid dan Ferguson, Kota Praya memiliki iklim D dan E yaitu Hujan Tropis dengan musim kemarau kering, yaitu mulai bulan November sampai dengan Mei, sementara curah hujan berkisar antara 1.000 hingga 1.750 mm pertahun.

Agama dan Budaya

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/92/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Rijtuig_voor_de_moskee_in_Praja_TMnr_10015103.jpg/300px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Rijtuig_voor_de_moskee_in_Praja_TMnr_10015103.jpg
http://bits.wikimedia.org/static-1.23wmf1/skins/common/images/magnify-clip.png
Kereta di depan masjid di Praya (1933)
Mayoritas penduduk Kota Praya beragama Islam, namun hal ini tidak menghalangi kerukunan antar umat beragama yang akhir-akhir ini telah menjadi sorotan masyarakat di sana. Warga Kota Praya dikenal sebagai masyarakat yang taat beragama yang ditandai dengan pembangunan Masjid Agung Praya yang merupakan salah satu Masjid terbesar di Nusa Tenggara Barat. Sebagian warga keturunan Bali memeluk Agama Hindu. Banyak etnis Tionghoa yang beragama Kristen dan Buddha di Kota Praya berprofesi sebagai pedagang.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/74/Kota_Praya_sebagai_Pusat_Kebudayaan_Masyarakat_Lombok_Tengah.jpg
Kota Praya sebagai Pusat Kebudayaan Masyarakat Lombok Tengah.

Sarana dan Prasarana

Sarana fasilitas umum kota Praya meliputi:
  • Ruang Terbuka Hijau
    • Jumlah taman kota: 2 taman kota
    • Luas taman kota: 3 ha
    • Jumlah lapangan Olahraga: 3 lapangan
    • Luas keseluruhan lapangan Olahraga: 20 ha
    • Jumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU): 10 TPU
    • Luas keseluruhan TPU: 15 ha
  • Jalan yang terdiri dari Arteri/Utama, Kolektor/Penghubung dan Lokal/Lingkungan dengan panjang:
    • Jalan arteri/utama: - km
    • Kolektor/penghubung: 27,8 km
    • Lokal/lingkungan: 30,78 km

Olahraga

Walaupun tidak mempunyai klub sepak bola profesional yang berprestasi secara nasional, Kota Praya mempunyai sarana pendukung olahraga seperti Lapangan Bundar yang terletak persis di tengah kota serta Lapangan Umum Muhajirin yang di sore hari juga sering dijadikan tempat bersantai-santai warga Kota Praya. Total keseluruhan luas lapangan olahraga di Kota Praya mencapai 20 Ha yang menunjukkan kesukaan serta kesadaran masyarakatnya pada olahraga.

Mata Pencaharian

Mengingat sebagian wilayah Kabupaten Lombok Tengah merupakan areal pertanian, maka sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani. Secara keseluruhan, prosentase pembagian penduduk di Kabupaten Lombok Tengah dari segi mata pencaharian adalah : Pertanian 72%, Industri 7%, Jasa 7%, Perdagangan 7%, Angkutan 3%, Konstruksi 2%, lain-lain 2%.

Transportasi

Sebagai salah satu wilayah penting di Pulau Lombok, Kota Praya mempunyai transportasi umum berupa angkutan kota yang melewati beberapa kota lainnya di Pulau Lombok seperti Mataram, Cakranegara, Ampenan, dan Sweta. Kota Praya sendiri mempunyai Terminal Kota Praya yang berfungsi sebagai terminal angkutan umum antar kota yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Renteng.

Tempat Menarik

Kuliner

Kota Praya juga menyimpan aneka makanan lezat yang mengundang untuk dinikmati. Makanan yang terkenal di Kota Praya sebagian besarnya adalah makanan khas Pulau Lombok yang identik dengan pedas. Di sore hari di jalan-jalan utama Kota Praya seperti Jl. Jendral Sudirman dan sekitarnya banyak menyediakan makan lezat seperti ayam bakar Taliwang, seafood, sate dan di praya makanan ayam bakar Taliwang  dan Nasi Balap yang paling sangat fenomena di praya dari segala penikmat makanan mencari makanan yang dua ini.
         Sedangkan di desa saya yang bernama desa Batuson yang terletak di jantung kota praya masih terlindungi dari gangguan budaya luar,di desa Batuson masyarakat masih seperti zaman dahulu yang sering bersosialisasi dengan penduduk desa lain dan penghuni desa sendiri. Sampai sekarang di desa saya masih menerapkan setiap malam jum’at yasinan bareng di setiap rumah penduduk di desa tersebut dengan cara bergiliran setiap malam jum’at nya,dan apabila ada hari islam (hari raya idul fitri & maulid nabi) semua penduduk desa bergotong royong bersihkan desa,masjid & kuburan.
 dan tak lupa pula dari tahun 1982 – sekarang  penduduk desa masih mengadakan arisan bareng & yasinan bareng,apabila datang hari HUT RI maka remaja – remaja desa mengadakan acara menghiasi desa dengan tampilan indonesia.


     SEKIAN DAN TERIMA KASIH , SEMOGA BERMANFAAT

tugas isd

nama : hidayat ramadani
prodi : psik
semester : 7



Sejarah kota tempat lahirku ‘’ praya lombok tengah’’

Babad Praya Lombok




 1.     Ringkasan Babad Praya (Mengawi).
Babad Praya sebagaimana halnya babad-babad yang lain seperti babad Lombok, Babad Selaparang (Babad Sakra) merupakan nukilan sejarah yaitu sejarah Praya sewaktu melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Anak Agung. Pemberontakan pertanian di Praya terjadi sebagai akibat dari adanya pajak yang memberatkan rakyat Praya.
Pemberontakan Praya terjadi pada tahun 1891 di bawah pimpinan Lalu Semail atau yang lazim disebut dengan Guru Bangkol yang dibantu oleh pemuka lainnya yaitu H.Dolah, H.Yasin, Mamiq Sepian, Mamiq Diraja, Mamiq Srinata, Ocet Talib dan lain-lain. Dalam babad ini juga diceritakan adanya seorang yang menyatakan dirinya berkebangsaan Arab bernama Tuan Serip. Ia adalah pengacau dan pengadu domba kedua belah pihak yang berperang. Karena siasat adu domba itulah maka ia berhasil mempengaruhi beberapa daerah lainnya, seperti Sakra, Masbagik,  Jerowaru, Pujut, Puyung, Kopang, Batukliang, Penujak, Jonggat, Sukarara dan Kediri untuk mengadakan pemberontakan bersama-sama dengan Praya.
Demikianlah maka perang tak dapat dielakkan lagi. Kedua belah pihak masing-masing mempersiapkan diri. Pihak Anak Agung dipimpin oleh Ratu Made dibantu oleh Ratu Nengah Gengsok, Anak Agung Made Jelantik, Bagus Nyoman Gel-gel, Ida Conding dan lain-lain keluar dari Cakranegara menuju ke timur untuk menyerbu Praya. Demikian pula Praya yang semula telah sepakat menggabungkan kekuatan dengan Puyung mulai bergerak ke arah barat menuju Cakra untuk mengadakan penyerbuan. Akan tetapi  Puyung tak dapat memenuhi janjinya dan tak dapat dilewati oleh pasukan Praya karena dijaga ketat oleh para  prajurit yang setia di bawah pemerintahan Anak Agung. Pada waktu penyerngan pertama Lalu Semail alias Guru Bangkol tidak bisa seterusnya memimpin pasukan, karena mendadak sakit perut di tengah jalan. Ia terpaksa kembali ke Praya karena sakit.Kedua pasukan itu akhirnya bertemu di Batukeliang di tempat pertemuan pertama terjadi.
Pertemuan demi pertemuan terus berlangsug sampai akhirnya pasukan Anak Agung dapat memasuki Praya. Inilah yang menyebabkan sebagian warga kota Praya harus mengungsi. Sisa-sisa warga kota dan para pemimpin mereka itulah yang terus mengadakan perlawanan dengan siasat perang bertahan di tempat. Masjid dijadikan tempat pertahanan mereka dengan mempergunakan senjata seadanaya berupa keris-keris, tombak, pedang dan lain-lain. Sedangkan persenjataan Anak Agung cukup modern karena sebagian besar memakai bedil. Karena merasa kawatir terdesak oleh musuh, maka pada suatu saat, mereka membuat semacam taktik yaitu dengan mengikatkan tombak pada orang-orangan yang terbuat dari bumbug. Kalau talinya ditarik, maka semua orang-orangan itu akan bergerak seperti orang yang hendak menombak. Diceritakan bahwa siasat ini cukup berhasil karena musuh tidak berani maju mengadakan perlawanan.
Penyerbuan Anak Agung tidak berhenti sampai di sini,  mereka terus menerus berusaha menduduki Praya dengan berbagai cara seperti membakar rumah-rumah penduduk desa  dan masjid yang dijadikan tempat pertahanan. Pada saat itu hampir semua daerah Praya dapat diduduki oleh Anak Agung. Daerah sekitarnya sampai sebelah barat Leneng dan dari segala penjuru telah dibentengi Anak Agung. Akan tetapi  dengan sisa kekuatan dan kemampuan yang ada, Praya terus bertahan sampai akhirnya berhasil mengusir Anak Agung dari Leneng.
Hal ini  merupakan awal kemenangan Praya. Kekalahan pasukannya membuat Anak Agung Made Karangasem bersama Anak Agung Ketut Karangasem kembali menyusun strategi baru. Usahanya ini juga gagal karena daerah-daerah di luar Praya seperti Jrowaru, Sakra, Apitaik, Pringgabaya, Pohgading,dan daerah pesisir lainnya yang sebelumnya setia kepada Anak Agung kini dibawah pimpinan H. Ali dan Mamiq Wirasentana berbalik melawan Anak Agung. Demikian pula halnya dengan Puyung yang dijadikan markas pertahanan Mataram, akhirnya dapat dikuasai oleh Praya setelah Pujut, Kawo,  Penujak, Batujai, Mujur,dan Marong ikut menggabungkan diri. Dengan demikian berakhir pulalah upaya pendudukan Anak Agung terhadap Praya dan daerah-daerah lainnya.
2.     Ringkasan Babad Praya
Lontar babad Praya ditulis oleh penulis Sasak yang yang berasal dari desa Batujai. Lontar ini menceritakan sebab-sebab terjadinya pemberontakan pemuka masyarakat terhadap kekuasaan Anak Agung Gde Ngurah Karangasem yang berkuasa pada saat itu.
Sistem  penulisan lontar ini dalam bentuk sekaran (tembang) berbahasa Sasak. Ceritanya berawal dari latar belakang pemberontakan Praya. Diceritakan,pemberontakan terjadi karena adanya hasutan dari kalangan istana dan seorang yang berkebangsaan Arab bernama Tuan Sayid Abdullah yang menetap di Ampenan. Hal ini terjadi  sebagaia akibat adanya tekanan dan keharusan membayar upeti (pajak) serta adanya suatu paham yang keliru tentang dihalalkannya mencuri harta orang non muslim (Bali). Yang disebut terakhir merupakan penyebab khusus (Triger-penyelut) mulainya peperangan. Fitnah dan informasi yang keliru atau tidak sesuai dengan kenyataan telah memperuncing suasana di antar kedua belah puhak.
Dalam keadaan seperti itu, keputusan-keputusan yang diambil tanpa melalui perhitungan atau pemikiran panjang. Pihak yang satu mengunggulkan keberaniannya dan pihak yang lain membanggakan kekuatannya. Berbagai kelemahan pada masing-masing pihak dilukiskan dalam babad Praya ini misalnya, ketergesaan yang membawa kesulitan pada pihak Praya dan kesalahan strategi Anak Agung Made sebagai panglima perang kerajaan Mataram. Anak Agung mempergunakan pasukan Islam (Sasak) Praya. Dalam babad ini diceritakan pula akibat dari perang yang terjadi, berupa korban jiwa dan harta benda. Perang ini berakhir dengan kehancuran kerajaan Karang Asem Lombok dan masuknya Kolonialisme Belanda di Lombok.
Siapakah yang menang di antara mereka dalam perang saudara ini? Itulah pertanyaan yang muncul setelah membaca babad ini.Seperti bunyi ungkapan serat menak.
Yaktining para ratu kang ajurit
Kasoran tan kasoran
Unggul woten unggul
Mung sampeyan katiwasan
Para ratu lahire ungguling jurit
Nanging paduka tiwas
Artinya :
Sesungguhnya para pemimpin yang berperang
Kalah tiada kalah
Hanyalah Tuan terpedaya
Para pemimpin lahirnya menang perang
Tapi tuan-tuan terpedaya


1.                   Jumlah penduduk di praya lombok tengah
jumlah penduduk
Penduduk sebagai subyek maupun obyek pembangunan merupakan variabel dependen yang utama, karenaynya informasi mengenai kependudukan menjadi sesuatu yang penting untuk dicermati.Tahun 2009, jumlah penduduk tercatat sebanyak 856.675 jiwa yang terdiri dari 382.531 jiwa penduduk laki-laki dan 474.144 jiwa penduduk perempuan. BIla dibandingkan dengan luas wilayah seluas 1.208,39 km2, maka tercatat kepadatan penduduk sebesar 709 jiwa/km2. Dilihat kondisi kecamatan, maka kecamatan Praya masih merupakan kecamatan terpadat, karena untuk setiap km2 dihuni oleh 1.657 jiwa, posisi kedua dan ketigaditempati oleh kecamatan Batukliang dan Kopang. Sebaliknya Kecamatan Batukliang Utara merupakan kecamatan paling jarang karena untuk satu km2 hanya dihuni oleh 254 jiwa penduduk

2.                   Lingkungan hidup
Di ‘’praya lombok  tengah ‘’ adalah sebuah kecamatan di kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Indonesia yang juga merupakan ibukota dari Kabupaten Lombok Tengah terletak antara 115°46 - 119°05 Bujur Timur dan 08°10 - 09°05 Lintang Selatan. Selain menjadi pusat kegiatan masyarakat Lombok Tengah, Praya juga menjadi kota pusat kebutuhan dan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Kota Praya mempunyai pasar induk Renteng sebagai sarana pendukung pemenuhan kebutuhan pokok. Selain itu, sektor perdagangan Kota Praya telah cukup berkembang dengan adanya bank swasta dan pemerintah, serta didukung toko serba ada, supermarket, serta toko eceran modern yang mampu menyediakan kebutuhan masyarakatnya.

v    iklim 
Kecamatan Praya terdiri dari 9 kelurahan dan 5 desa. Berdasarkan klasifikasi Schmid dan Ferguson, Kota Praya memiliki iklim D dan E yaitu Hujan Tropis dengan musim kemarau kering, yaitu mulai bulan November sampai dengan Mei, sementara curah hujan berkisar antara 1.000 hingga 1.750 mm pertahun.
v    Agama dan budaya
Mayoritas penduduk Kota Praya beragama Islam, namun hal ini tidak menghalangi kerukunan antar umat beragama yang akhir-akhir ini telah menjadi sorotan masyarakat di sana. Warga Kota Praya dikenal sebagai masyarakat yang taat beragama yang ditandai dengan pembangunan Masjid Agung Praya yang merupakan salah satu Masjid terbesar di Nusa Tenggara Barat. Sebagian warga keturunan Bali memeluk Agama Hindu. Banyak etnis Tionghoa yang beragama Kristen dan Buddha di Kota Praya berprofesi sebagai pedagang.

Kota Praya sebagai Pusat Kebudayaan Masyarakat Lombok Tengah.
v    Sarana dan Prasarana
Sarana fasilitas umum kota Praya meliputi:
·                      Ruang Terbuka Hijau
o         Jumlah taman kota: 2 taman kota
o         Luas taman kota: 3 ha
o         Jumlah lapangan Olahraga: 3 lapangan
o         Luas keseluruhan lapangan Olahraga: 20 ha
o         Jumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU): 10 TPU
o         Luas keseluruhan TPU: 15 ha
·                      Jalan yang terdiri dari Arteri/Utama, Kolektor/Penghubung dan Lokal/Lingkungan dengan panjang:
o         Jalan arteri/utama: - km
o         Kolektor/penghubung: 27,8 km
o         Lokal/lingkungan: 30,78 km
v    Olahraga
Walaupun tidak mempunyai klub sepak bola profesional yang berprestasi secara nasional, Kota Praya mempunyai sarana pendukung olahraga seperti Lapangan Bundar yang terletak persis di tengah kota serta Lapangan Umum Muhajirin yang di sore hari juga sering dijadikan tempat bersantai-santai warga Kota Praya. Total keseluruhan luas lapangan olahraga di Kota Praya mencapai 20 Ha yang menunjukkan kesukaan serta kesadaran masyarakatnya pada olahraga.
v    Mata Pencaharian
Mengingat sebagian wilayah Kabupaten Lombok Tengah merupakan areal pertanian, maka sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani. Secara keseluruhan, prosentase pembagian penduduk di Kabupaten Lombok Tengah dari segi mata pencaharian adalah : Pertanian 72%, Industri 7%, Jasa 7%, Perdagangan 7%, Angkutan 3%, Konstruksi 2%, lain-lain 2%.
v    Transportasi
Sebagai salah satu wilayah penting di Pulau Lombok, Kota Praya mempunyai transportasi umum berupa angkutan kota yang melewati beberapa kota lainnya di Pulau Lombok seperti Mataram, Cakranegara, Ampenan, dan Sweta. Kota Praya sendiri mempunyai Terminal Kota Praya yang berfungsi sebagai terminal angkutan umum antar kota yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Renteng.
v    Tempat Menarik
·            Tugu Mandalika yang menyimpan kisah tragis Putri Mandalika dan terkenal dengan Festival Bau Nyale
·                      Masjid Agung Praya, Masjid terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Barat
Bendungan Batujai, bendungan terbesar di Pulau Lombok sebagai sarana irigasi lokasi pertanian di kabupaten Lombok Tengah.
v    Kuliner
Kota Praya juga menyimpan aneka makanan lezat yang mengundang untuk dinikmati. Makanan yang terkenal di Kota Praya sebagian besarnya adalah makanan khas Pulau Lombok yang identik dengan pedas. Di sore hari di jalan-jalan utama Kota Praya seperti Jl. Jendral Sudirman dan sekitarnya banyak menyediakan makan lezat seperti ayam bakar Taliwang, seafood, sate dan banyak warung-warung yang menjadi sasaran pencinta kuliner di sini.