|
Nama
: Hidayat Ramdhani
prodi : psik
Nim : 010110a043
Sejarah kota praya
Lombok tengah
Kabupaten Lombok Tengah terbentuk menjadi otonom
berdasarkan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan
daerah-daerah Tingkat II dalam wilayah Daerah-Daerah Tingkat I Bali, Nusa
Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Undang-undang tersebut disahkan pada
tanggal 14 Agustus 1958. Namun demikian, sebelum terbentuk sebagai sebuah
wilayah pemerintahan, entitas Lombok Tengah telah ada jauh sebelum itu.
Beberapa momentum historis yang menandai keberadaan Lombok Tengah, antara
lain adalah dengan dikeluarkan Stb Nomor 248 Tahun 1898, kemudian pasca
proklamasi, Lombok Tengah secara integral menjadi bagian dari NKRI ditandai
dengan pelantikan secara formal Kepala Pemerintahan Setempat Lombok Tengah
yang pertama, pada tanggal15 Oktober 1945. Momentum ini menjadi leverage
factor yang memicu tumbuhnya semangat integrasi, patriotisme dan nasionalisme
di Kabupaten Lombok Tengah. Enam momentum yang diklasifikasi menjadi dua
kategori masa kejadian perostiwa penting perjalanan Kabupaten Lombok Tengah,
yakni pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.
Momentum Peristiwa Sebelum
Kemerdekaan, meliputi :
a. Peristiwa 7 Agustus 1891. Pada
saat inilah mulai dikobarkannya apa yang disebut dengan Congah Praya kemudian
berlanjut pada 28 September 1898 menjadi Perang Lombok yang berakhir dengan
runtuhnya dinasti Kerajaan Karang Asem di Lombok
b. Peristiwa 18 Agustus 1898.
Berlangsung pertemuan para tokoh masyarakat sasak untuk mennetukan batas
wilayah desa dan kampung, baik di onder afdeeling (dibawah divisi) Lombok
Barat maupun di onder afdeeling Lombok Timur. Pada waktu itu, Lombok Tengah
masih berada di onder afdeeling Lombok Timur
c. Peristiwa 27 Agustus 1898. Onder
afdeeling Lombok Timur dimekarkan menjadi onder afdeeling Lombok Timur dan
onder afdeeling Lombok Tengah, sesuai statblad Nomor 248 Tahun 1898 kemudian
ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Gubernur General Nomor 19 Tanggal 27
Agustus 1898. Sejak saat itulah dikenal istilah Lombok Tengah dengan
batas-batas wilayah seperti sekarang.
Momentum Peristiwa setelah Kemerdekaan Republik
Indonesia, meliputi :
a. Peristiwa 22 September 1945.
Presiden RI, Ir. Soekarno, melantik I Gusti Ketut Pudja menjadi Gubernur
Provinsi Sunda Kecil, dimana Lombok yang masih diduduki Jepang merupakan
bagian dari wilayah Provinsi Sunda Kecil
b. Peristiwa 15 Oktober 1945.
Dilakukan over alih kekuasaan dari Jepang kepada Bangsa Indonesia di Gedung
Mardi Bekso Mataram. Peristiwa ini menandai masuknya Lombok ke wilayah Hukum
Pemerintahan Republik Indonesia. Sejak saat itu, Bendera Merah Putih mulai
dikibarkan di Lombok, disusul dengan penetapan orang-orang yang memegang
jabatan pemerintahan, diantaranya R. Noene Noeraksa menjadi Kepala Daerah
setempat – Lombok Barat, Lalu Srinata menjadi Kepala Daerah Setempat – Lombok
Tengah dan Mamiq Fadelah menjadi Kepala Daerah setempat – Lombok Timur
c. Peristiwa 17 Desember 1958. Hari
jadi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berdasarkan Undang-undang Nomor 64
tahun 1958 dan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan
Daerah-daerah tingkat II dalam wilayah Daerah Tingkat I Bali, NTB dan NTT
Tanggal 14 Agustus 1958.
Keenam alternatif momentum tersebut, kemudian
mengerucut menjadi dua. Satu alternatif momentum sebelum kemerdekaan, yakni
peristiwa 27 Agustus 1898. Sedangkan alternatif momentum sesudah kemerdekaan,
yang dipilih adalah peristiwa 15 Oktober 1945. Ketika memilih salah satu dari
dua alternatif momentum ini ternayat tidak mudah. Buktinya, selama tiga hari
dan tiga malam seminar berjalan, belum juga menghasilkan keputusan. Forum
seminar kemudian membentuk Tim Perumus untuk melakukan kajian lebih mendalam
terhadap kedua alternatif momentum tersebut. Setelah melalui perdebatan
diantara Tim Perumus dipilih peristiwa 15 Oktober 1945 sebagai Hari Jadi
Kabupaten Lombok Tengah. Dipilihnya momentum 15 Oktober 1945 sesuai dengan
kriteria yang telah disepakati, sebagaimana dinyatakan dalam Berita Acara Tim
Perumus Seminar Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah, yakni :
a. Hari jadi yang ingin ditetapkan
adalah Hari kesatuan masyarakat hukum
b. Dasar penentuan alternatif
momentum hendaknya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dengan
memperhatikan hal-hal berikut :
1. Memperkokoh persatuan dan
kesatuan serta meningkatkan rasa kebersamaan serta mampu menggali nilai-nilai
perjuangan sebagai spirit dalam menghadapi masa depan
2. Memiliki nilai legalitas dan
landasan yuridis formal, serta didukung dengan kajian ilmiah sehingga dapat
dipertanggungjawabkan secara akademis
3. Mendapat pengakuan secara luas
dari masyarakat
Selain telah memenuhi kretiria tersebut, dipilihnya
tanggal 15 Oktober 1945 juga dilandasi oleh beberapa pertimbangan. Pertama,
pengakuan Lalu Srinata selaku Kepala Pemerintahan Lombok Tengah oleh Gubernur
Provinsi Sunda Kecil, Mr. I Gusti Ketut Pudja, telah melegitimasi keberadaan
Pemerintahan Lombok Tengah secara hukum. Kedua, pada tanggal 15 Oktober 1945
Komite Nasional Daerah Lombok (semacam DPRD) mengadakan rapat umum di
alun-alun Mataram. Pada momentum itulah untuk pertama kali dikibarkan Bendera
Merah Putih dan dibacanya Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 di Bumi Sasak
Lombok. Peristiwa ini tentu amat membanggakan dan menjadi spirit bagi
masyarakat Lombok untuk membangun daerahnya menjadi lebih maju kedepan.
Peran KNPI
Beberapa waktu sebelumnya, telah beberapa kali ada
upaya melalui seminar, diskusi, sangkep adat dan forum lainnya untuk mencari
dan menentukan Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah. Upaya itu dilakukan, antara
lain, oleh lembaga swadaya masyarakat termasuk dinas instansi tertentu.
Namun, belum menghasilkan sebuah keputusan tentang hal tersebut. Suatu bukti,
betapa tidak mudahnya menemukan dan menetapkan Hari Jadi Kabupaten Lombok
Tengah, daerah yang kini telah menjadi gerbang NTB berkat keberadaan Bandara
Internasional Lombok (BIL).
Terdorong oleh idealisme kepeloporannya, kelompok
kaum muda di bawah bendera DPD KNPI Lombok Tengah dengan Ketua Lalu Muhammad
Saleh, S.Sos dan Sekretaris Lalu Amrillah, S.Sos kemudian tampil selaku
penyelenggara seminar yang berhasil menentukan tanggal lahir Kabupaten Lombok
Tengah. Sejumlah nara sumber berkompeten dari berbagai kalangan dihadirkan
pada acara seminar tersebut. Dari kalangan akademisi, antara lain, Prof.
Galang Asmara (Dekan Fakultas Hukum Unram), Prof. Gde Agung Anak Agung (Dekan
Fakultas Sastra, Universitas Udayana). Dari pejabat birokrasi Lombok Tengah
hadir, antara lain, Drs. Lalu Muhammad Danial, MT dan sejumlah tokoh
budayawan, tokoh adat dan tokoh agama Lombok Tengah. Peserta seminar adalah
para tokoh perwakilan dari 12 kecamatan, se kabupaten Lombok Tengah. Dengan
demikian, forum seminar ini sangat representatif untuk menghasilkan sebuah
keputusan tentang Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah yang diterima oleh semua
pihak.
Tim perumus hasil seminar diketuai oleh Drs. L.
Muhammad Danial, MT dan L. Muh. Ikhsan, SE selaku sekretaris. Anggota Tim
perumus adalah tokoh dari berbagai kalangan, diantaranya : Drs. H. Lalu
Subki, M.Pd (Pemerhati Pendidikan), H. Marzuki (tokoh masyarakat), Ahmad
Yani, APKL (politisi), L. Muh. Saleh, S.Sos (tokoh pemuda), L.Purna
Mangunjaya (budayawan), Drs. Nasri Anggara, MA (tokoh agama, Kakan Kemenag
Kabupaten Loteng), L. Siaga, S.Sos (tokoh pemuda), L. Siaga, S.Sos (tokoh
pemuda), H. Lalu Muhammad Putria S.Pd, M.Pd (budayawan, Kadis Pariwisata kab.
Loteng), L Maskur (tokoh masyarakat), Bq. Sri Handayani (wartawati), L.
Saftaadi (tokoh pemuda), H. Lalu Muhammad Syar’i BE (budayawan) dan Drs. L.
Padlan Prayanegara, MM, M.Pd, M.Si (politisi).
Setelah ditetapkan tanggal 15 Oktober 1945 sebagai
hari kelahiran Kabupaten Lombok Tengah, langkah selanjutnya adalah legalitas
secara hukum yaitu ditetapkan melalui produk hukum, ternyata tidak mudah.
Rancangan Perda (Ranperda) tentang hari jadi kabupaten Lombok Tengah diajukan
oleh Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Wiratmaja melalui Sekda Lombok Tengah,
Drs. H. Lalu Supardan, MM ke DPRD Lombok Tengah pada tahun 2009 namun pada
saat itu DPRD Lombok Tengah belum dapat mengagendakan untuk dibahas. Terhadap
hal tersebut, Bupati H. Moh. Suhaili FT seusai Peringatan Hari Pendidikan
Nasional tanggal 2 Mei 2012, mengundang para Tim Perumus ke Ruang rapat Utama
kantor Bupati untuk membahas kalanjutan Ranperda tentang hari jadi tersebut
apakah hasil seminar yang telah diajukan ke DPRD Lombok Tengah akan dibahas
kembali atau tidak. Di dalam pembahasan yang dipimpin oleh Sekda Lombok Tengah,
Drs. H. Lalu Supardan, MM mengambil keputusan bersama bahwa hasil seminar
yang telah diajukan ke dewan dalam bentuk ranperda tidak dibahas lagi
sehingga Tim Perumus mendorong Pemda untuk berkoordinasi dengan dewan untuk
pembahasan selanjutnya pada tahun 2012. Hal ini yang dilaporkan kepada
Bupati.
Periode Kepemimpinan Daerah (dari
tahun 1945 – sekarang)
Dalam usia 67 tahun, perjalanan kabupaten Lombok
Tengah, yakni zaman orde lama, zaman orde baru dan zama orde reformasi. Dalam
tiga zaman pemerintahan tersebut, daerah bermotokan Tatas Tuhu Trasna ini
telah dipimpin oleh 9 orang Kepala Daerah/Bupati –Wakil Bupati. Figur bupati
pada setiap zaman pemerintahan dipengaruhi oleh motivasi politik dan
ketentuan Perundang-undangan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berlaku
pada masing-masing zaman. Oleh karena itu, figur Bupati – Wakil Bupati bisa
dikatakan mewakili peradaban manusia pada zamannya.
Selama dua dekade masa kekeuasaan, Rezim Orde Lama
telah memberlakukan beberapa peraturan Perundang-undangan tentang
pemerintahan daerah, yakni : Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948, Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1057, Penpres Nomor 6 Tahun 1959 dan Undang-undang Nomor 18
Tahun 1965. Berpijak pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan tersebut,
sepertinya telah melegitimasi praktek kekuasaan rezim orde lama ketika
memberlakukan apa yang dikenal dengan demokrasi terpimpin dalam sistem
pemerintahannya. Kebijakan ini sangat dimungkinkan atas kondisi politik dan
keamanan pada zaman itu. Pada saat itu, sistem rekruitmen kepala daerah
dilakukan melalui proses pengangkatan oleh pejabat pemerintah pusat.
Menariknya, figur para bupati yang diangkat adalah dari kalangan putra
daerah, mulai dari kepala pemerintahan daerah setempat – Lombok Tengah,
dijabat oleh Lalu Srinata (1945 – 1946).
Mula-mula L. Wira said (mendiang ayahanda Lalu
Srinata), lebih dahulu memegang jabatan sebagai Kepala Distrik Jonggat.
Berkat pendidikan yang dimiliki, Lalu Srinata kemudian diangkat oleh pihak
kontelir (sebutan bagi penjajah) menjadi Kepala Distrik Jonggat pada 1932 –
1945, menggantikan kedudukan sang ayah. Ini emnjadi awal perjalanan karir
Lalu Srinata di dunia birokrasi pemerintahan. Pada awal masa kemerdekaan
Negara RI, karier Lalu Srinata semakin meningkat, setelah diangkat mejadi
Kepala Daerah Setempat - Lombok Tengah pada 15 Oktober 1945 sampai 1946. Pada
waktu itu, wilayah administratif Pemerintahan daerah Lombok Tengah terdiri
dari empat kedistrikan, yakni Distrik Praya, Kopang, Mantang dan distrik
Jonggat.
Setelah Lalu Srinata, Lombok Tengah kemudian
dipimpin oleh Lalu Wirentanus alias Haji Hasyim atau biasa disapa Datu Tuan
(1946 – 1959). Pada masa ini dilakukan pembagian wilayah Lombok Tengah dengan
Lombok Timur. Persatuan dan Kesatuan diantara semua elemen masyarakat
merupakan salah satu titik berat atau fokus pemerintahan Lalu Wirentanus
disamping masalah keamanan.
Pemerintahan Lalu Wirentanus dialnjutkan oleh M.
Sanusi (1960 – 1964) selaku Kepala daerah Tingkat II Kabupaten lombok Tengah.
Naiknya M. Sanusi sebagai Kepala daerah Tingkat II Kabupaten Lombok Tengah
melalui pemilihan di DPRD yang ditetapkan oleh Menteri dalam Negeri. Selain
meneruskan beberapa kebijakan pendahulunya, M. Sanusi juga melakukan berbagai
upaya pembangunan agar masyarakat daerah ini lebih sejahtera. Salah satu yang
sangat dibutuhkan oleh warga masyarakat pada saat itu adalah air untuk
pengairan maka dibangunlah waduk yang ada di Desa Muncan, Kecamatan Kopang.
Wilayah Administratif Lombok Tengah pada masa ini tetap empat Distrik, diantaranya,
Distrik Praya, Kopang, Mantang dan Jonggat.
Kepemimpinan M. Sanusi berakhir pada tahun 1964 dan
dilanjutkan oleh salah satu putra terbaik Lombok Tengah, yaitu Drs. Lalu Sri
Gede. Fokus pembangunan pada masa pemerintahan ini adalah memperluas infrastruktur
jalan yang ada di kota praya dan beberapa wilayah lainnya. Maklum, pada saat
itu infrastruktur jalan yang ada di kota praya sangat sempit. Pembangunan
infrastruktur jalan diimbangi dengan pembangunan perkampungan yang salah
satunya adalah Kampung kauman. Pemerintahan Drs Lalu Sri Gde berakhir pada
tahun 1979.
Setelah Drs H. Lalu Sri Gde
berakhir pada tahun 1979.
Setelah Drs H. Lalu Sri Gde, Pemerintahan
dilanjutkan oleh Letkol. C. Parwoto WP untuk periode 1979 -1989. Untuk
pertamakalinya, Lombok Tengah dipimpin oleh seorang TNI. Pada masa ini
pemerintahan Parwoto WP inilah mulai ada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(Bappeda) di Kabupaten Lombok Tengah. Bersamaan dengan itu, perencanaan pun
dilakukan. Sistem Gogo Rancah yang sangat terkenal itu, mulai diterapkan pada
masa pemerintahan ini. Melihat kondisi sebagai sebagian besar lahan di Lombok
Tengah dalam keadaan kering, maka dibangunlah Waduk atau Bendungan Batujai.
Tata ruang Kota Praya juga sudah mulai direncanakan.
Selain itu, ide pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) sudah mulai
pada masa periode pemerintahan ini.
Kepemimpinan Letkol C. Parwoto WP berakhir tahun
1989 yang dilanjutkan oleh Kol. (Purn) H. Ircham dari kalangan TNI juga. Kol.
(Purn) Ircham memimpin Lombok Tengah untuk periode 1989 – 1999. Disamping
melanjutkan kegiatan pembangunan periode bupati sebelumnya, pada masa inilah
lahan Bandara Internasional Lombok (BIL) yang ada di Tanak Awu, Kecamatan
Pujut dilakukan pembebasan. Sistem Gogo Rancah untuk mengimbangi tanah yang
kering di wilayah selatan tetap diterapkan.
Habis masa pemerintahan Kol. (Purn) H. Ircham
dilanjutkan oleh Drs H. Lalu Suhaimi dari kalangan sipil yang diangkat
melalui DPRD. Pada masa inilah pemekaran wilayah dilakukan sehingga menjadi
12 kecamatan seperti sekarang ini. Kecamatan yang baru hasil pemekaran pada
masa Drs H Lalu Suhaimi, diantaranya, Kecamatan Praya Tengah, Kecamatan Praya
Barat dan Kecamatan Praya Barat Daya. Selain pemekaran wilayah, Drs H. Lalu
Suhaimi juga memindahkan terminal yang ada di Kota Praya ke Renteng,
Kecamatan Praya. Hal ini seiring dengan pengembangan usaha perdagangan di
kota praya. Drs H. Lalu Suhaimi menjadi Kepala Daerah Kabupaten Lombok Tengah
sampai tahun 2004.
Periode kepemimpinan Lombok Tengah selanjutnya di
bawah pasangan H. Lalu Wiratmaja – H. Lalu Suprayatno, SH. MBA. MM. Untuk
pertamakalinya pasangan pimpinan Lombok Tengah ini dipilih secara langsung
oleh seluruh rakyat Bumi Tatas Tuhu Trasna. Pada masa kepemimpinan H. Lalu
Wiratmaja atau mamiq ngoh inilah dilakukan peletakan batu pertama pembangunan
Bandara Internasional Lombok (BIL). Kepemimpinan H. Lalu Wiratmaja hanya satu
periode yaitu dari tahun 2004 – 2010. Untuk periode 2010 – 2015, Gumi Tatas
Tuhu Trasna dipimpin oleh pasangan H. Moh. Suhaili FT, SH. – Drs H. Lalu
Normal Suzana yang juga dipilih secara langsung. Pasangan yang etrkenal
dengan Jargon Maiq Meres ini ingin mewujudkan tatanan masyarakat Lombok
Tengah yang Bersatu : Beriman, Sejahtera dan Bermutu.
|
Iklim
Kecamatan Praya terdiri dari 9 kelurahan dan 5 desa. Berdasarkan klasifikasi Schmid dan Ferguson, Kota Praya memiliki iklim D dan E yaitu Hujan Tropis dengan musim kemarau kering, yaitu mulai bulan November sampai dengan Mei, sementara curah hujan berkisar antara 1.000 hingga 1.750 mm pertahun.Agama dan Budaya
Kereta di
depan masjid di Praya (1933)
Mayoritas penduduk Kota Praya beragama Islam, namun hal ini tidak menghalangi kerukunan antar umat
beragama yang akhir-akhir ini telah menjadi sorotan masyarakat di sana. Warga
Kota Praya dikenal sebagai masyarakat yang taat beragama yang ditandai dengan
pembangunan Masjid Agung Praya yang
merupakan salah satu Masjid terbesar di Nusa Tenggara Barat. Sebagian warga
keturunan Bali memeluk Agama Hindu. Banyak etnis Tionghoa yang beragama Kristen dan Buddha di Kota Praya
berprofesi sebagai pedagang.
Kota Praya
sebagai Pusat Kebudayaan Masyarakat Lombok Tengah.
Sarana dan Prasarana
Sarana fasilitas umum kota Praya meliputi:- Ruang Terbuka Hijau
- Jumlah taman kota: 2 taman kota
- Luas taman kota: 3 ha
- Jumlah lapangan Olahraga: 3 lapangan
- Luas keseluruhan lapangan Olahraga: 20 ha
- Jumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU): 10 TPU
- Luas keseluruhan TPU: 15 ha
- Jalan yang terdiri dari Arteri/Utama, Kolektor/Penghubung dan Lokal/Lingkungan dengan panjang:
- Jalan arteri/utama: - km
- Kolektor/penghubung: 27,8 km
- Lokal/lingkungan: 30,78 km
Olahraga
Walaupun tidak mempunyai klub sepak bola profesional yang berprestasi secara nasional, Kota Praya mempunyai sarana pendukung olahraga seperti Lapangan Bundar yang terletak persis di tengah kota serta Lapangan Umum Muhajirin yang di sore hari juga sering dijadikan tempat bersantai-santai warga Kota Praya. Total keseluruhan luas lapangan olahraga di Kota Praya mencapai 20 Ha yang menunjukkan kesukaan serta kesadaran masyarakatnya pada olahraga.Mata Pencaharian
Mengingat sebagian wilayah Kabupaten Lombok Tengah merupakan areal pertanian, maka sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani. Secara keseluruhan, prosentase pembagian penduduk di Kabupaten Lombok Tengah dari segi mata pencaharian adalah : Pertanian 72%, Industri 7%, Jasa 7%, Perdagangan 7%, Angkutan 3%, Konstruksi 2%, lain-lain 2%.Transportasi
Sebagai salah satu wilayah penting di Pulau Lombok, Kota Praya mempunyai transportasi umum berupa angkutan kota yang melewati beberapa kota lainnya di Pulau Lombok seperti Mataram, Cakranegara, Ampenan, dan Sweta. Kota Praya sendiri mempunyai Terminal Kota Praya yang berfungsi sebagai terminal angkutan umum antar kota yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Renteng.Tempat Menarik
- Tugu Mandalika yang menyimpan kisah tragis Putri Mandalika dan terkenal dengan Festival Bau Nyale
- Masjid Agung Praya, Masjid terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Barat
- Bendungan Batujai, bendungan terbesar di Pulau Lombok sebagai sarana irigasi lokasi pertanian di kabupaten Lombok Tengah.
Kuliner
Kota Praya juga menyimpan aneka makanan lezat yang mengundang untuk dinikmati. Makanan yang terkenal di Kota Praya sebagian besarnya adalah makanan khas Pulau Lombok yang identik dengan pedas. Di sore hari di jalan-jalan utama Kota Praya seperti Jl. Jendral Sudirman dan sekitarnya banyak menyediakan makan lezat seperti ayam bakar Taliwang, seafood, sate dan di praya makanan ayam bakar Taliwang dan Nasi Balap yang paling sangat fenomena di praya dari segala penikmat makanan mencari makanan yang dua ini.
Sedangkan di desa saya yang bernama desa Batuson
yang terletak di jantung kota praya masih terlindungi dari gangguan budaya
luar,di desa Batuson masyarakat masih
seperti zaman dahulu yang sering bersosialisasi dengan penduduk desa lain dan
penghuni desa sendiri. Sampai sekarang di desa saya masih menerapkan setiap
malam jum’at yasinan bareng di setiap rumah penduduk di desa tersebut dengan
cara bergiliran setiap malam jum’at nya,dan apabila ada hari islam (hari raya
idul fitri & maulid nabi) semua penduduk desa bergotong royong bersihkan
desa,masjid & kuburan.
dan tak lupa pula dari tahun 1982 – sekarang penduduk desa masih mengadakan arisan bareng & yasinan bareng,apabila datang hari HUT RI maka remaja – remaja desa mengadakan acara menghiasi desa dengan tampilan indonesia.
dan tak lupa pula dari tahun 1982 – sekarang penduduk desa masih mengadakan arisan bareng & yasinan bareng,apabila datang hari HUT RI maka remaja – remaja desa mengadakan acara menghiasi desa dengan tampilan indonesia.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH , SEMOGA BERMANFAAT


Tidak ada komentar:
Posting Komentar