Nama : nurma yunita
Nim : 010110a088
Semester : 7
Sejarah tempat lahirku ‘’ praya_ lombok tengah’’
Babad Praya Lombok
1. Ringkasan Babad Praya (Mengawi).
Babad Praya sebagaimana halnya babad-babad yang lain seperti babad
Lombok, Babad Selaparang (Babad Sakra) merupakan nukilan sejarah yaitu sejarah
Praya sewaktu melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Anak Agung.
Pemberontakan pertanian di Praya terjadi sebagai akibat dari adanya pajak
yang memberatkan rakyat Praya.
Pemberontakan Praya terjadi pada tahun 1891 di bawah pimpinan Lalu
Semail atau yang lazim disebut dengan Guru Bangkol yang dibantu oleh pemuka
lainnya yaitu H.Dolah, H.Yasin, Mamiq Sepian, Mamiq Diraja, Mamiq Srinata,
Ocet Talib dan lain-lain. Dalam babad ini juga diceritakan adanya seorang
yang menyatakan dirinya berkebangsaan Arab bernama Tuan Serip. Ia adalah
pengacau dan pengadu domba kedua belah pihak yang berperang. Karena siasat
adu domba itulah maka ia berhasil mempengaruhi beberapa daerah lainnya,
seperti Sakra, Masbagik, Jerowaru, Pujut, Puyung, Kopang, Batukliang, Penujak,
Jonggat, Sukarara dan Kediri untuk mengadakan pemberontakan bersama-sama
dengan Praya.
Demikianlah maka perang tak dapat dielakkan lagi. Kedua belah pihak
masing-masing mempersiapkan diri. Pihak Anak Agung dipimpin oleh Ratu Made
dibantu oleh Ratu Nengah Gengsok, Anak Agung Made Jelantik, Bagus Nyoman
Gel-gel, Ida Conding dan lain-lain keluar dari Cakranegara menuju ke timur
untuk menyerbu Praya. Demikian pula Praya yang semula telah sepakat
menggabungkan kekuatan dengan Puyung mulai bergerak ke arah barat menuju
Cakra untuk mengadakan penyerbuan. Akan tetapi Puyung tak dapat
memenuhi janjinya dan tak dapat dilewati oleh pasukan Praya karena dijaga
ketat oleh para prajurit yang setia di bawah pemerintahan Anak Agung.
Pada waktu penyerngan pertama Lalu Semail alias Guru Bangkol tidak bisa
seterusnya memimpin pasukan, karena mendadak sakit perut di tengah jalan. Ia
terpaksa kembali ke Praya karena sakit.Kedua pasukan itu akhirnya bertemu di
Batukeliang di tempat pertemuan pertama terjadi.
Pertemuan demi pertemuan terus berlangsug sampai akhirnya pasukan
Anak Agung dapat memasuki Praya. Inilah yang menyebabkan sebagian warga kota
Praya harus mengungsi. Sisa-sisa warga kota dan para pemimpin mereka itulah
yang terus mengadakan perlawanan dengan siasat perang bertahan di tempat.
Masjid dijadikan tempat pertahanan mereka dengan mempergunakan senjata
seadanaya berupa keris-keris, tombak, pedang dan lain-lain. Sedangkan
persenjataan Anak Agung cukup modern karena sebagian besar memakai bedil.
Karena merasa kawatir terdesak oleh musuh, maka pada suatu saat, mereka
membuat semacam taktik yaitu dengan mengikatkan tombak pada orang-orangan
yang terbuat dari bumbug. Kalau talinya ditarik, maka semua orang-orangan itu
akan bergerak seperti orang yang hendak menombak. Diceritakan bahwa siasat
ini cukup berhasil karena musuh tidak berani maju mengadakan perlawanan.
Penyerbuan Anak Agung tidak berhenti sampai di sini, mereka
terus menerus berusaha menduduki Praya dengan berbagai cara seperti membakar
rumah-rumah penduduk desa dan masjid yang dijadikan tempat pertahanan.
Pada saat itu hampir semua daerah Praya dapat diduduki oleh Anak Agung.
Daerah sekitarnya sampai sebelah barat Leneng dan dari segala penjuru telah
dibentengi Anak Agung. Akan tetapi dengan sisa kekuatan dan kemampuan
yang ada, Praya terus bertahan sampai akhirnya berhasil mengusir Anak Agung
dari Leneng.
Hal ini merupakan awal kemenangan Praya. Kekalahan pasukannya
membuat Anak Agung Made Karangasem bersama Anak Agung Ketut Karangasem
kembali menyusun strategi baru. Usahanya ini juga gagal karena daerah-daerah
di luar Praya seperti Jrowaru, Sakra, Apitaik, Pringgabaya, Pohgading,dan
daerah pesisir lainnya yang sebelumnya setia kepada Anak Agung kini dibawah
pimpinan H. Ali dan Mamiq Wirasentana berbalik melawan Anak Agung. Demikian
pula halnya dengan Puyung yang dijadikan markas pertahanan Mataram, akhirnya
dapat dikuasai oleh Praya setelah Pujut, Kawo, Penujak, Batujai,
Mujur,dan Marong ikut menggabungkan diri. Dengan demikian berakhir pulalah
upaya pendudukan Anak Agung terhadap Praya dan daerah-daerah lainnya.
2. Ringkasan Babad Praya
Lontar babad Praya ditulis oleh penulis Sasak yang yang berasal dari
desa Batujai. Lontar ini menceritakan sebab-sebab terjadinya pemberontakan
pemuka masyarakat terhadap kekuasaan Anak Agung Gde Ngurah Karangasem yang
berkuasa pada saat itu.
Sistem penulisan lontar ini dalam bentuk sekaran (tembang)
berbahasa Sasak. Ceritanya berawal dari latar belakang pemberontakan Praya.
Diceritakan,pemberontakan terjadi karena adanya hasutan dari kalangan istana
dan seorang yang berkebangsaan Arab bernama Tuan Sayid Abdullah yang menetap
di Ampenan. Hal ini terjadi sebagaia akibat adanya tekanan dan
keharusan membayar upeti (pajak) serta adanya suatu paham yang keliru tentang
dihalalkannya mencuri harta orang non muslim (Bali). Yang disebut terakhir
merupakan penyebab khusus (Triger-penyelut) mulainya peperangan. Fitnah dan
informasi yang keliru atau tidak sesuai dengan kenyataan telah memperuncing
suasana di antar kedua belah puhak.
Dalam keadaan seperti itu, keputusan-keputusan yang diambil tanpa
melalui perhitungan atau pemikiran panjang. Pihak yang satu mengunggulkan
keberaniannya dan pihak yang lain membanggakan kekuatannya. Berbagai
kelemahan pada masing-masing pihak dilukiskan dalam babad Praya ini misalnya,
ketergesaan yang membawa kesulitan pada pihak Praya dan kesalahan strategi
Anak Agung Made sebagai panglima perang kerajaan Mataram. Anak Agung
mempergunakan pasukan Islam (Sasak) Praya. Dalam babad ini diceritakan pula
akibat dari perang yang terjadi, berupa korban jiwa dan harta benda. Perang
ini berakhir dengan kehancuran kerajaan Karang Asem Lombok dan masuknya
Kolonialisme Belanda di Lombok.
Siapakah yang menang di antara mereka dalam perang saudara ini?
Itulah pertanyaan yang muncul setelah membaca babad ini.Seperti bunyi
ungkapan serat menak.
Yaktining para ratu kang ajurit
Kasoran tan kasoran
Unggul woten unggul
Mung sampeyan katiwasan
Para ratu lahire ungguling jurit
Nanging paduka tiwas
Artinya :
Sesungguhnya para pemimpin yang berperang
Kalah tiada kalah
Hanyalah Tuan terpedaya
Para pemimpin lahirnya menang perang
Tapi tuan-tuan terpedaya
|
1.
Jumlah penduduk di
praya lombok tengah
jumlah
penduduk
Penduduk sebagai
subyek maupun obyek pembangunan merupakan variabel dependen yang utama,
karenaynya informasi mengenai kependudukan menjadi sesuatu yang penting untuk
dicermati.Tahun 2009, jumlah penduduk tercatat sebanyak 856.675 jiwa yang
terdiri dari 382.531 jiwa penduduk laki-laki dan 474.144 jiwa penduduk perempuan.
BIla dibandingkan dengan luas wilayah seluas 1.208,39 km2, maka tercatat
kepadatan penduduk sebesar 709 jiwa/km2. Dilihat kondisi kecamatan, maka
kecamatan Praya masih merupakan kecamatan terpadat, karena untuk setiap km2
dihuni oleh 1.657 jiwa, posisi kedua dan ketigaditempati oleh kecamatan
Batukliang dan Kopang. Sebaliknya Kecamatan Batukliang Utara merupakan
kecamatan paling jarang karena untuk satu km2 hanya dihuni oleh 254 jiwa
penduduk
2.
Lingkungan hidup
Di
‘’praya lombok tengah ‘’ adalah sebuah kecamatan
di kabupaten Lombok Tengah,
Nusa Tenggara Barat,
Indonesia
yang juga merupakan ibukota dari Kabupaten Lombok Tengah terletak antara 115°46
- 119°05 Bujur Timur dan 08°10 - 09°05 Lintang Selatan. Selain menjadi pusat
kegiatan masyarakat Lombok Tengah, Praya juga menjadi kota pusat kebutuhan dan
kebudayaan masyarakat sekitarnya. Kota Praya mempunyai pasar induk Renteng
sebagai sarana pendukung pemenuhan kebutuhan pokok. Selain itu, sektor
perdagangan Kota Praya telah cukup berkembang dengan adanya bank swasta dan
pemerintah, serta didukung toko
serba ada, supermarket,
serta toko eceran modern yang mampu menyediakan kebutuhan masyarakatnya.
v
iklim
Kecamatan Praya terdiri dari 9 kelurahan dan 5 desa.
Berdasarkan klasifikasi Schmid dan Ferguson, Kota Praya memiliki iklim D dan E
yaitu Hujan Tropis dengan musim kemarau kering, yaitu mulai bulan November
sampai dengan Mei, sementara curah hujan berkisar antara 1.000 hingga 1.750 mm
pertahun.
v
Agama dan
budaya
Mayoritas penduduk Kota Praya beragama Islam, namun hal ini tidak menghalangi kerukunan antar umat
beragama yang akhir-akhir ini telah menjadi sorotan masyarakat di sana. Warga
Kota Praya dikenal sebagai masyarakat yang taat beragama yang ditandai dengan
pembangunan Masjid Agung Praya yang
merupakan salah satu Masjid terbesar di Nusa Tenggara Barat. Sebagian warga
keturunan Bali memeluk Agama Hindu. Banyak etnis Tionghoa yang beragama Kristen dan Buddha di Kota
Praya berprofesi sebagai pedagang.
Kota Praya sebagai Pusat Kebudayaan
Masyarakat Lombok Tengah.
v
Sarana dan
Prasarana
Sarana fasilitas umum kota Praya meliputi:
·
Ruang Terbuka Hijau
o
Jumlah taman kota: 2 taman kota
o
Luas taman kota: 3 ha
o
Jumlah lapangan Olahraga: 3 lapangan
o
Luas keseluruhan lapangan Olahraga:
20 ha
o
Jumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU):
10 TPU
o
Luas keseluruhan TPU: 15 ha
·
Jalan yang terdiri dari
Arteri/Utama, Kolektor/Penghubung dan Lokal/Lingkungan dengan panjang:
o
Jalan arteri/utama: - km
o
Kolektor/penghubung: 27,8 km
o
Lokal/lingkungan: 30,78 km
v
Olahraga
Walaupun tidak mempunyai klub sepak bola profesional
yang berprestasi secara nasional, Kota Praya mempunyai sarana pendukung
olahraga seperti Lapangan Bundar yang terletak persis di tengah kota serta
Lapangan Umum Muhajirin yang di sore hari juga sering dijadikan tempat
bersantai-santai warga Kota Praya. Total keseluruhan luas lapangan olahraga di
Kota Praya mencapai 20 Ha yang menunjukkan kesukaan serta kesadaran
masyarakatnya pada olahraga.
v
Mata
Pencaharian
Mengingat sebagian wilayah Kabupaten Lombok Tengah
merupakan areal pertanian, maka sebagian besar penduduknya hidup sebagai
petani. Secara keseluruhan, prosentase pembagian penduduk di Kabupaten Lombok
Tengah dari segi mata pencaharian adalah : Pertanian 72%, Industri 7%,
Jasa 7%, Perdagangan 7%, Angkutan 3%, Konstruksi 2%, lain-lain 2%.
v
Transportasi
Sebagai salah satu wilayah penting di Pulau Lombok, Kota Praya mempunyai transportasi
umum berupa angkutan kota yang melewati beberapa kota lainnya di Pulau Lombok
seperti Mataram, Cakranegara, Ampenan, dan Sweta. Kota Praya
sendiri mempunyai Terminal Kota Praya yang berfungsi sebagai terminal angkutan
umum antar kota yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Renteng.
v
Tempat
Menarik
Bendungan Batujai, bendungan terbesar di Pulau Lombok sebagai sarana
irigasi lokasi pertanian di kabupaten Lombok Tengah.
v
Kuliner
Kota Praya juga menyimpan aneka makanan lezat yang
mengundang untuk dinikmati. Makanan yang terkenal di Kota Praya sebagian
besarnya adalah makanan khas Pulau Lombok yang identik dengan pedas. Di sore
hari di jalan-jalan utama Kota Praya seperti Jl. Jendral Sudirman dan
sekitarnya banyak menyediakan makan lezat seperti ayam bakar Taliwang, seafood,
sate dan banyak warung-warung yang menjadi sasaran pencinta kuliner di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar