prodi : psik
semester : 7
Sejarah kota tempat lahirku ‘’ praya lombok tengah’’
Babad Praya Lombok
1.
Ringkasan Babad Praya (Mengawi).
Babad
Praya sebagaimana halnya babad-babad yang lain seperti babad Lombok, Babad
Selaparang (Babad Sakra) merupakan nukilan sejarah yaitu sejarah Praya
sewaktu melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Anak Agung.
Pemberontakan pertanian di Praya terjadi sebagai akibat dari adanya pajak
yang memberatkan rakyat Praya.
Pemberontakan
Praya terjadi pada tahun 1891 di bawah pimpinan Lalu Semail atau yang lazim
disebut dengan Guru Bangkol yang dibantu oleh pemuka lainnya yaitu H.Dolah,
H.Yasin, Mamiq Sepian, Mamiq Diraja, Mamiq Srinata, Ocet Talib dan lain-lain.
Dalam babad ini juga diceritakan adanya seorang yang menyatakan dirinya
berkebangsaan Arab bernama Tuan Serip. Ia adalah pengacau dan pengadu domba
kedua belah pihak yang berperang. Karena siasat adu domba itulah maka ia
berhasil mempengaruhi beberapa daerah lainnya, seperti Sakra, Masbagik,
Jerowaru, Pujut, Puyung, Kopang, Batukliang, Penujak, Jonggat, Sukarara dan
Kediri untuk mengadakan pemberontakan bersama-sama dengan Praya.
Demikianlah
maka perang tak dapat dielakkan lagi. Kedua belah pihak masing-masing
mempersiapkan diri. Pihak Anak Agung dipimpin oleh Ratu Made dibantu oleh
Ratu Nengah Gengsok, Anak Agung Made Jelantik, Bagus Nyoman Gel-gel, Ida
Conding dan lain-lain keluar dari Cakranegara menuju ke timur untuk menyerbu
Praya. Demikian pula Praya yang semula telah sepakat menggabungkan kekuatan
dengan Puyung mulai bergerak ke arah barat menuju Cakra untuk mengadakan
penyerbuan. Akan tetapi Puyung tak dapat memenuhi janjinya dan tak
dapat dilewati oleh pasukan Praya karena dijaga ketat oleh para
prajurit yang setia di bawah pemerintahan Anak Agung. Pada waktu penyerngan
pertama Lalu Semail alias Guru Bangkol tidak bisa seterusnya memimpin
pasukan, karena mendadak sakit perut di tengah jalan. Ia terpaksa kembali ke
Praya karena sakit.Kedua pasukan itu akhirnya bertemu di Batukeliang di
tempat pertemuan pertama terjadi.
Pertemuan
demi pertemuan terus berlangsug sampai akhirnya pasukan Anak Agung dapat
memasuki Praya. Inilah yang menyebabkan sebagian warga kota Praya harus
mengungsi. Sisa-sisa warga kota dan para pemimpin mereka itulah yang terus
mengadakan perlawanan dengan siasat perang bertahan di tempat. Masjid
dijadikan tempat pertahanan mereka dengan mempergunakan senjata seadanaya
berupa keris-keris, tombak, pedang dan lain-lain. Sedangkan persenjataan Anak
Agung cukup modern karena sebagian besar memakai bedil. Karena merasa kawatir
terdesak oleh musuh, maka pada suatu saat, mereka membuat semacam taktik
yaitu dengan mengikatkan tombak pada orang-orangan yang terbuat dari bumbug.
Kalau talinya ditarik, maka semua orang-orangan itu akan bergerak seperti
orang yang hendak menombak. Diceritakan bahwa siasat ini cukup berhasil
karena musuh tidak berani maju mengadakan perlawanan.
Penyerbuan
Anak Agung tidak berhenti sampai di sini, mereka terus menerus berusaha
menduduki Praya dengan berbagai cara seperti membakar rumah-rumah penduduk
desa dan masjid yang dijadikan tempat pertahanan. Pada saat itu hampir
semua daerah Praya dapat diduduki oleh Anak Agung. Daerah sekitarnya sampai
sebelah barat Leneng dan dari segala penjuru telah dibentengi Anak Agung.
Akan tetapi dengan sisa kekuatan dan kemampuan yang ada, Praya terus
bertahan sampai akhirnya berhasil mengusir Anak Agung dari Leneng.
Hal
ini merupakan awal kemenangan Praya. Kekalahan pasukannya membuat Anak
Agung Made Karangasem bersama Anak Agung Ketut Karangasem kembali menyusun
strategi baru. Usahanya ini juga gagal karena daerah-daerah di luar Praya
seperti Jrowaru, Sakra, Apitaik, Pringgabaya, Pohgading,dan daerah pesisir
lainnya yang sebelumnya setia kepada Anak Agung kini dibawah pimpinan H. Ali
dan Mamiq Wirasentana berbalik melawan Anak Agung. Demikian pula halnya
dengan Puyung yang dijadikan markas pertahanan Mataram, akhirnya dapat
dikuasai oleh Praya setelah Pujut, Kawo, Penujak, Batujai, Mujur,dan
Marong ikut menggabungkan diri. Dengan demikian berakhir pulalah upaya pendudukan
Anak Agung terhadap Praya dan daerah-daerah lainnya.
2.
Ringkasan Babad Praya
Lontar
babad Praya ditulis oleh penulis Sasak yang yang berasal dari desa Batujai.
Lontar ini menceritakan sebab-sebab terjadinya pemberontakan pemuka
masyarakat terhadap kekuasaan Anak Agung Gde Ngurah Karangasem yang berkuasa
pada saat itu.
Sistem
penulisan lontar ini dalam bentuk sekaran (tembang) berbahasa Sasak.
Ceritanya berawal dari latar belakang pemberontakan Praya.
Diceritakan,pemberontakan terjadi karena adanya hasutan dari kalangan istana
dan seorang yang berkebangsaan Arab bernama Tuan Sayid Abdullah yang menetap
di Ampenan. Hal ini terjadi sebagaia akibat adanya tekanan dan
keharusan membayar upeti (pajak) serta adanya suatu paham yang keliru tentang
dihalalkannya mencuri harta orang non muslim (Bali). Yang disebut terakhir
merupakan penyebab khusus (Triger-penyelut) mulainya peperangan. Fitnah dan
informasi yang keliru atau tidak sesuai dengan kenyataan telah memperuncing
suasana di antar kedua belah puhak.
Dalam
keadaan seperti itu, keputusan-keputusan yang diambil tanpa melalui
perhitungan atau pemikiran panjang. Pihak yang satu mengunggulkan
keberaniannya dan pihak yang lain membanggakan kekuatannya. Berbagai
kelemahan pada masing-masing pihak dilukiskan dalam babad Praya ini misalnya,
ketergesaan yang membawa kesulitan pada pihak Praya dan kesalahan strategi
Anak Agung Made sebagai panglima perang kerajaan Mataram. Anak Agung
mempergunakan pasukan Islam (Sasak) Praya. Dalam babad ini diceritakan pula
akibat dari perang yang terjadi, berupa korban jiwa dan harta benda. Perang
ini berakhir dengan kehancuran kerajaan Karang Asem Lombok dan masuknya
Kolonialisme Belanda di Lombok.
Siapakah
yang menang di antara mereka dalam perang saudara ini? Itulah pertanyaan yang
muncul setelah membaca babad ini.Seperti bunyi ungkapan serat menak.
Yaktining
para ratu kang ajurit
Kasoran
tan kasoran
Unggul
woten unggul
Mung
sampeyan katiwasan
Para
ratu lahire ungguling jurit
Nanging
paduka tiwas
Artinya :
Sesungguhnya
para pemimpin yang berperang
Kalah
tiada kalah
Hanyalah
Tuan terpedaya
Para
pemimpin lahirnya menang perang
Tapi
tuan-tuan terpedaya
|
1.
Jumlah penduduk di praya lombok tengah
jumlah
penduduk
Penduduk sebagai subyek maupun
obyek pembangunan merupakan variabel dependen yang utama, karenaynya informasi
mengenai kependudukan menjadi sesuatu yang penting untuk dicermati.Tahun 2009,
jumlah penduduk tercatat sebanyak 856.675 jiwa yang terdiri dari 382.531 jiwa
penduduk laki-laki dan 474.144 jiwa penduduk perempuan. BIla dibandingkan
dengan luas wilayah seluas 1.208,39 km2, maka tercatat kepadatan penduduk
sebesar 709 jiwa/km2. Dilihat kondisi kecamatan, maka kecamatan Praya masih
merupakan kecamatan terpadat, karena untuk setiap km2 dihuni oleh 1.657 jiwa, posisi
kedua dan ketigaditempati oleh kecamatan Batukliang dan Kopang. Sebaliknya
Kecamatan Batukliang Utara merupakan kecamatan paling jarang karena untuk satu
km2 hanya dihuni oleh 254 jiwa penduduk
2.
Lingkungan hidup
Di
‘’praya lombok tengah ‘’ adalah sebuah kecamatan di kabupaten Lombok Tengah,
Nusa Tenggara Barat,
Indonesia yang juga merupakan ibukota dari
Kabupaten Lombok Tengah terletak antara 115°46 - 119°05 Bujur Timur dan 08°10 -
09°05 Lintang Selatan. Selain menjadi pusat kegiatan masyarakat Lombok Tengah,
Praya juga menjadi kota pusat kebutuhan dan kebudayaan masyarakat sekitarnya.
Kota Praya mempunyai pasar induk Renteng sebagai sarana pendukung pemenuhan
kebutuhan pokok. Selain itu, sektor perdagangan Kota Praya telah cukup
berkembang dengan adanya bank swasta dan pemerintah, serta didukung toko serba ada, supermarket, serta toko eceran
modern yang mampu menyediakan kebutuhan masyarakatnya.
v iklim
Kecamatan Praya terdiri dari 9 kelurahan dan 5 desa. Berdasarkan
klasifikasi Schmid dan Ferguson, Kota Praya memiliki iklim D dan E yaitu Hujan
Tropis dengan musim kemarau kering, yaitu mulai bulan November sampai dengan
Mei, sementara curah hujan berkisar antara 1.000 hingga 1.750 mm pertahun.
v
Agama dan budaya
Mayoritas penduduk Kota Praya beragama Islam, namun hal
ini tidak menghalangi kerukunan antar umat beragama yang akhir-akhir ini telah
menjadi sorotan masyarakat di sana. Warga Kota Praya dikenal sebagai masyarakat
yang taat beragama yang ditandai dengan pembangunan Masjid Agung Praya yang
merupakan salah satu Masjid terbesar di Nusa Tenggara Barat. Sebagian warga
keturunan Bali memeluk Agama Hindu. Banyak etnis Tionghoa yang beragama Kristen dan Buddha di Kota
Praya berprofesi sebagai pedagang.
Kota Praya sebagai Pusat Kebudayaan
Masyarakat Lombok Tengah.
v
Sarana dan Prasarana
Sarana fasilitas umum kota Praya meliputi:
·
Ruang Terbuka Hijau
o
Jumlah taman kota: 2 taman kota
o
Luas taman kota: 3 ha
o
Jumlah lapangan Olahraga: 3 lapangan
o
Luas keseluruhan lapangan Olahraga: 20 ha
o
Jumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU): 10 TPU
o
Luas keseluruhan TPU: 15 ha
·
Jalan yang terdiri dari Arteri/Utama,
Kolektor/Penghubung dan Lokal/Lingkungan dengan panjang:
o
Jalan arteri/utama: - km
o
Kolektor/penghubung: 27,8 km
o
Lokal/lingkungan: 30,78 km
v
Olahraga
Walaupun tidak mempunyai klub sepak bola profesional yang berprestasi secara
nasional, Kota Praya mempunyai sarana pendukung olahraga seperti Lapangan
Bundar yang terletak persis di tengah kota serta Lapangan Umum Muhajirin yang
di sore hari juga sering dijadikan tempat bersantai-santai warga Kota Praya.
Total keseluruhan luas lapangan olahraga di Kota Praya mencapai 20 Ha yang
menunjukkan kesukaan serta kesadaran masyarakatnya pada olahraga.
v
Mata Pencaharian
Mengingat sebagian wilayah Kabupaten Lombok Tengah merupakan areal
pertanian, maka sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani. Secara
keseluruhan, prosentase pembagian penduduk di Kabupaten Lombok Tengah dari segi
mata pencaharian adalah : Pertanian 72%, Industri 7%, Jasa 7%, Perdagangan
7%, Angkutan 3%, Konstruksi 2%, lain-lain 2%.
v
Transportasi
Sebagai salah satu wilayah penting di Pulau Lombok, Kota Praya mempunyai transportasi umum berupa
angkutan kota yang melewati beberapa kota lainnya di Pulau Lombok seperti Mataram, Cakranegara, Ampenan, dan Sweta. Kota Praya
sendiri mempunyai Terminal Kota Praya yang berfungsi sebagai terminal angkutan
umum antar kota yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Renteng.
v
Tempat Menarik
Bendungan Batujai, bendungan terbesar di Pulau Lombok sebagai sarana irigasi lokasi
pertanian di kabupaten Lombok Tengah.
v
Kuliner
Kota Praya juga menyimpan aneka makanan lezat yang mengundang untuk
dinikmati. Makanan yang terkenal di Kota Praya sebagian besarnya adalah makanan
khas Pulau Lombok yang identik dengan pedas. Di sore hari di jalan-jalan utama
Kota Praya seperti Jl. Jendral Sudirman dan sekitarnya banyak menyediakan makan
lezat seperti ayam bakar Taliwang, seafood,
sate dan banyak warung-warung yang menjadi sasaran pencinta kuliner di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar